Adu Kerbau di Pasar Bolu
edit

Adu Kerbau di Pasar Bolu



Pada Hari Rabu, tanggal 18 Maret 2015, da sebuah pemandangan unik di Pasar Hewan Bolu, Rantepao, Toraja Utara. Orang-orang berkumpul membentuk lingkaran besar di area dekat pasar. Ternyata mereka sedang menyaksikan dua ekor kerbau yang sedang bertarung untuk menentukan siapa yang lebih kuat. 

Pasar Bolu sendiri merupakan sebuah pasar hewan yang khusus menjual kerbau. Hari pasar di Pasar Bolu ini diadakan setiap enam hari sekali. Dimana pada setiap hari pasar diperkirakan ada 500-800 ekor kerbau yang dipajang dan dijual. Dengan jumlah kerbau sebanyak ini, maka pasar ini dinobatkan sebagai Pasar Kerbau terbesar di Indonesia bahkan di dunia.

Di setiap hari pasar, ada ratusan pedagang yang berasal dari berbagai daerah, baik dari daerah Toraja atau pun luar Toraja. Mereka sengaja datang ke Pasar Bolu untuk menjual kerbaunya. Harga kerbau di Tana Toraja sendiri terbilang sangat fantastis. Mulai dari puluhan juta hingga milyaran rupiah, tergantung kerbaunya. Tinggi rendahnya harga kerbau dilihat dari keunikan kerbau itu sendiri. Kerbau yang memiliki nilai tinggi adalah jenis kerbau bule atau belang, yang memiliki kulit tubuh berwarna putih, atau biasa dikenal juga sebagai albino. Selain kulit, warna tanduk yang kuning juga akan membuat harga kerbau meningkat. Warna mata dan ukuran tubuh pun menjadi indikator penilaian.

Read More....
Tongkonan Tana Toraja
edit

Tongkonan Tana Toraja



Tana Toraja dan Tongkonan adalah dua hal yang tdak bisa dilepaskan. Ya, Tongkonan sendiri adalah rumah adat asli Suku Toraja yang mempunyai nilai sosial dan sejarah yang sangat menarik. Menurut kepercayaan Suku Toraja, Tongkonan ini merupakan bangunan yang pada awalnya dibangun di Puya (Surga) oleh Puang Matua (Tuhan) dan kemudian dibawa ke Bumi dan dibangun juga di Tana Toraja.


Hampir di setiap tempat yang kita datangi di Toraja, baik kota atau pun desa, pasti kita akan menemukan Tongkonan. Bentuk dari Tongkonan ini juga memang khas. Rumah panggung yang dibangun dengan bahan dasar kayu, seluruh bagian bangunannya dipenuhi oleh ukiran dan lukisan, dengan bentuk atap yang menyerupai perahu terbalik, dan jika dilihat dari samping maka akan terlihat seperti bentuk kepala kerbau.
Ada beberapa fakta unik mengenai Tongkonan yang ada di Tana Toraja ini, yaitu:


  • ·         Tongkonan digunakan oleh orang Toraja sebagai tempat tinggal atau pun sebagai pusat pertemuan keluarga. Setiap orang memiliki lebih dari satu Tongkonan yang bisa ditempati, karena sistem kekeluargaan suku Toraja ini bersifat bilateral.
Read More....
Rambu Solo (Upacara Kematian) Tana Toraja
edit

Rambu Solo (Upacara Kematian) Tana Toraja



Ada sebuah kesempatan berharga yang tidak akan saya lewatkan saat saya sedang berada di Toraja. Kawan saya yang merupakan orang asli Tana Toraja memberitahu saya bahwa besok di dekat kampungnya akan diadakan Rambu Solo atau Upacara Kematian. Tanpa sedikit pun ragu saya langsung mau untuk ikut pergi ke kampungnya yang memerlukan waktu dua jam dari kosan saya di Toraja. Saya pun langsung di antar oleh kawan saya ke tempat dilaksanakannya Rambu Solo ini.



Disatu sisi saya turut berduka cita atas kematian anggota keluarganya yang meninggal di daerah lautan di Irian Jaya. Di sisi lain saya juga merasa bangga, karena bisa ikut dalam acara ini. Kebetulan, karena saya juga sedang melakukan penelitian mengenai Faktor Sosial dan Budaya Suku Toraja yang mempengaruhi nilai jual kerbau. 

Acara Rambu Solo yang dilaksanakan oleh keluarga almarhum ini berlangsung selama dua hari. Hari pertama pada tanggal 16 Maret 2015 ada acara doa bersama, dan tanggal 17 Maret 2015 ada acara pemotongan kerbau dan pengantaran mayat ke Pattani (makam). Saya hanya ikut acara di hari ke 2.

Tempat berlangsungnya acara Rambu Solo ini adalah di Desa Ballah, Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja. Dari rumah kawanku tadi perlu naik motor dan jalan kaki lagi sekitar 30 menit. Di tempat berlangsungnya acara ini orang-orang yang merupakan tetangga dan sanak saudara keluarga sudah memenuhi tempat (semacam saung) yang sudah disiapkan.  Hampir semua orang menggunakan pakaian hitam yang dilengkapi dengan sarung hitam yang mereka sebut Tombilangi.

Read More....
Makna Ayam di Toraja
edit

Makna Ayam di Toraja



Bagi Suku Toraja, ayam, atau yang mereka kenal juga dengan Manuk Londong, merupaka hewan yang memiliki makna tersendiri. Ayam ini merupakan hewan yang melambangkan kepemimpinan dan kedisiplinan. Oleh karena itu dibeberapa Tongkonan dan Gereja yang ada di Toraja terdapat unsur ayam pada bangunannya.

Di beberapa Tongkonan, tepatnya dibagian atasnya sering kita jumpai dua lukisan ayam yang saling berhadapan. Menurut pemilik Tongkonan itu, ayam menggambarkan sifat pemilik Tongkonan yang memiliki jiwa kepemimpinan. Sementara itu pada bagian atas gereja juga terdapat lambang ayam yang mencerminkan kedisiplinan. Karena menurut mereka, jauh sebelum mengenal jam, ayam ini merupakan hewan yang tahu waktu.

Read More....
Backpacking Bandung - Toraja
edit

Backpacking Bandung - Toraja



Hari ke-1

Halaman pertama dalam cerita ini dimulai di Stasiun Kiara Condong, Bandung. Subuh ini terbuat dari antrian orang-orang yang akan dijemput oleh masinis kereta. Begitu pun kami, aku dan dua orang kawanku, Adit dan Ihsan, kami adalah kawan satu kampus di Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Hari ini kami akan memulai perjalanan dalam rangka pencarian data untuk skripsi kami. Tidak tanggung-tanggung penelitian yang kami lakukan berlokasi di Pulau Sulawesi, tepatnya di Kabupaten Toraja Utara, lebih tepatnya lagi di Pasar Bolu Rantepao.


Alih-alih penelitian, aku lebih senang menganggap ini sebagai “Petualangan”. Ya, penelitian sebagai petualangan dan petualangan sebagai penelitian. Sehingga aku tidak akan merasa bosan di tengah jalan. Dan jika bagi mahasiswa lain gelar S, Pt. Berarti Sarjana Peternakan, bagi kami S,Pt. ini adalah singkatan dari Sarjana Petualang.

Kembali lagi ke cerita, kota pertama yang akan kami singgahi adalah Surabaya, ya, Kota Pahlawan dengan lambang Hiu dan Buaya. Untuk sampai ke Surabaya dari Bandung sendiri kami harus melalui jarak sekitar 680 kilometer. Berhubung kereta yang kami gunakan adalah KA Pasundan kelas Ekonomi, mau tidak mau kita harus duduk manis dengan pantat manas kurang lebih 15 jam. 

Suasana di kereta hampir selalu sama, orang-orang yang duduk, jalan-jalan, curi-curi kesempatan merokok saat istirahat, tangisan bayi, pemandangan indah, dll. Namun ada satu hal yang hilang dan kurindukan. Teriakan para pedagang asongan. Sekarang mereka sudah dilarang, hanya pedagang makanan resmi  dari PT.KAI yang berjualan. Aku rindu teriakan pedagang Mizone, yang menurutku bisa menjadi patokan dan indikator sudah sampai di kota manakah kita. Semisal jika di Bandung, teriakan pedagang Mizone ini adalah “Mizon! Mizon!”, lalu sudah mau keluar dari Jawa Barat teriakannya berubah menjadi “Mijon! Mijon!”, kemudian sampai Jawa Tengah menjadi “Micon! Micon!” dan terakhir sesampainya di daerah Jawa Timur menjadi “Mison! Mison!”. Ah, rindunya.

Read More....
Subang Indramayu Cuma Seribu
edit

Subang Indramayu Cuma Seribu


Akhir-akhir ini aku sering melihat dan juga membaca mengenai tulisan para travel writer yang sepertinya saling berlomba untuk pamer siapakah yang bisa traveling ke suatu tempat dengan harga seminimal mungkin. Sebagai contoh: “Keliling Yogyakarta 200 Ribu Aja” , “Bandung-Singapura 500 Ribuan” , “1 Juta Jelajah Korea” , dan sebagainya. Tulisan mereka ini memang keren, membuat aku penasaran untuk bisa mencobanya.

Sampai sekarang ini aku memang masih belum bisa mengikuti jejak mereka. Belum kesampaian. Tapi, hari Minggu kemarin ternyata aku mendapat sebuah pengalaman baru yang aku rasa aku harus menceritakannya ke orang-orang. Memang tidak se-wah atau se-heboh seperti judul cerita diatas, tapi kurasa ini patut dicoba, apalagi ini ada di negeri kita sendiri, Indonesia. Minimal kita tau lah.

Jadi pada saat itu aku sedang berjalan-jalan di Pantai Kalapaan Subang, kebetulan aku sedang melaksanakan KKN di Desa Rancadaka, sekitar 8 km dari pantai itu. Aku berjalan bersama dua orang rekanku, Arif dan Andrian, awalnya kami hanya iseng-iseng saja membunuh waktu. Saat sedang berjalan-jalan tanpa sengaja kami melihat sekumpulan orang-orang yang sedang mengantri. Karena penasaran maka kami pun menghampirinya. Terlihat orang-orang yang menyebrangi sungai dengan menggunakan perahu rakit.

Kami pun masuk ke antrian, ikut berbaris, kami masih belum tau sebenarnya kemana kami akan pergi. Setelah menunggu sekitar beberapa menit akhirnya tiba giliran kami, kami pun bergegas naik ke atas perahu rakit. Setelah naik aku sempat bertanya pada seseorang yang ada di rakit itu mengenai tempat disebrang, ternyata tempat yang ada disebrang kami adalah Desa Ujung Gebang, masuk ke wilayah Indramayu. Sementara tempat kami menyebrang masih termasuk wilayah Subang, yaitu Desa Terungtum. Ternyata sungai ini merupakan perbatasan antara Subang dan Indramayu. Wow!

Read More....
Pesta Laut di Pantai Kalapaan
edit

Pesta Laut di Pantai Kalapaan


Seperti biasa, jam 5 pagi hp-ku suka berteriak-teriak sendiri, mungkin dia kesurupan, atau mungkin cari perhatian, ingin ditemukan untuk kemudian disentuh dan disuruh diam. Yap, pedahal aku sendiri yang sudah menyuruh dia untuk berteriak di jam segitu supaya aku bangun. Oh, alarm.

Mataku mulai kupaksa untuk terbuka, segel berupa belek-belek yang mengelilingi mataku pun mulai berjatuhan. Kulihat sekitar, para perjaka yang tidur di lantai walaupun ada cukup banyak kasur di tempat ini. Juga tubuh penuh keringat mereka yang hanya tertutup celana. Mereka seperti ikan yang siap dibakar.

Sudah hampir satu jam sejak hp-ku berteriak, kubuka pintu rumah sewaan ini, silau. Kuberjalan disekitar sambil sedikit melakukan peregangan badan. Tidak ada gunung sepanjang mataku melihat, hanya sawah kering dan pohon kelapa. Ah, hampir saja aku lupa, aku sedang tidak di Bandung. Sekarang aku sedang ada di Subang, yang baru aku kenal selama 3 hari. Jujur saja, aku baru tau ada Subang yang seperti ini, yang ku tau sih Subang itu dingin, tidak jauh beda dengan Bandungku. Subang disini panas, seperti Jakarta juga Jogjakarta, pagi-pagi saja sudah hareudang.

Subangku saat ini adalah Subang yang cukup jauh dari peradaban. Jalananya masih banyak bebatuan. Kalau kata Camatnya sih, jalanan disini itu baik, suka memberi kita pahala, karena setiap kita melaluinya kita akan lebih sering menyebut nama Tuhan, “Astaghfirullah!”.

Subangku saat ini juga adalah Subang yang gersang. Sinyal hp pun sering menghilang. Kebersihan lingkungannya pun kurang. Sing sabar, jang!

Read More....
Sunset dan Monyet
edit

Sunset dan Monyet



Langit selalu menjadi objek yang menarik untuk diabadikan. Senja mempunyai pesona yang membuatorang selalu ingin mendapatkannya. Gradasi warna langit oranye dan biru menjadikan monyet dan Pura Uluwatu tampak sempurna untuk dijadikan siluet.

Foto ini diikutsertakan dalam: http://thelostraveler.com/turnamen-foto-perjalanan-ronde-45-siluet/