Showing posts with label Culture. Show all posts
Showing posts with label Culture. Show all posts
Festival Maslenitsa Mahasiswa TSU
edit

Festival Maslenitsa Mahasiswa TSU

Pada hari Minggu tanggal 26 Februari 2017, mahasiswa internasional dari Tyumen State University melaksanakan sebuah festival yang dikenal dengan nama "Maslenitsa". Acara ini merupakan sebuah tradisi yang dilakukan setiap tahun oleh masyarakat di Rusia. Tujuan dari acara ini adalah sebagai bentuk penyambutan terhadap datangnya musim semi, dan salam perpisahan untuk musim dingin.

Maslenitsa sendiri sebenarnya adalah nama dari boneka yang didandani sedemikian rupa hingga terlihat cantik. Pada acara ini, boneka Maslenitsa akan dipajang ditengah lapang, lalu orang-orang akan berputar mengelilingi boneka tersebut sambil bernyanyi dan memanjatkan doa. 

Pada awalnya, Maslenitsa ini merupakan sebuah tradisi dari Kaum Pagan. Dalam mitologi Bangsa Slavic, Festival Maslenitsa ini didedikasikan untuk Volos, Dewa Bumi, air, dan hutan. Namun kemudian Maslenitsa ini menjadi salah satu bagian dari tradisi Umat Kristen Orthodox di Rusia. Biasanya acara ini dirayakan setiap 8 minggu menjelang Hari Paskah.

Read More....
Upacara Adat di Toraja
edit

Upacara Adat di Toraja

      Secara garis besar masyarakat Tana Toraja melakukan dua macam upacara adat, yaitu Upacara Rambu Solo dan Upacara Rambu Tuka’. Masig-masing upacara memiliki tujuan dan aturan yang berbeda. Seperti Upacara Rambu Solo diperuntukkan bagi acara kematian sedangkan Upacara Rambu Tuka’ diperuntukkan bagi acara kelahiran. Setiap upacara pun memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, namun pada intinya masyarakat disana tetap menggunakan kerbau sebagai instrument utama dalam setiap upacara. Kerbau ini digunakan sebagai persembahan yang akan disembelih dan kemudian dagingnya dikonsumsi oleh masyarakat disana dan tanduknya dipajang di rumah mereka sebagai bukti bahwa mereka sudah melakukan kegiatan upaca yang secara otomatis meningkatkan status sosial mereka di masyarakat. Kelompok masyarakat yang termasuk kelas atas dan memiliki peran serta status sosial tinggi di masyarakat Toraja akan mengadakan upacara yang lebih mewah dengan nilai jual kerbau yang tinggi.

1. Rambu Solo
            Rambu Solo adalah suatu prosesi pemakaman masyarakat Tana Toraja, yang tidak seperti pemakaman pada umumnya. Melalui upacara Rambu Solo inilah terlihat bahwa masyarakat Tana Toraja sangat menghormati leluhurnya. Prosesi upacara pemakaman ini  terdiri dari beberapa susunan acara. Dimana dalam setiap acara tersebut terlihat nilai-nilai kebudayaan yang sampai sekarang masih dipertahankan oleh masyarakat Tana Toraja.
            Secara garis besar upacara pemakaman terbagi kedalam 2 prosesi, yaitu Prosesi Pemakaman (Rante) dan Pertunjukan Kesenian. Prosesi-prosesi tersebut tidak dilangsungkan secara terpisah, namun saling melengkapi dalam keseluruhan upacara pemakaman.
            Prosesi Pemakaman atau Rante tersusun dari acara-acara yang berurutan. Prosesi Pemakaman (Rante) ini diadakan di lapangan yang terletak di tengah kompleks Rumah Adat Tongkonan. Acara-acara tersebut antara lain :
  • Ma’Tudan Mebalun, yaitu proses pembungkusan jasad
  • Ma’Roto, yaitu proses menghias peti jenazah dengan menggunakan benang emas dan benang perak.
  • Ma’Popengkalo Alang, yaitu proses perarakan jasad yang telah dibungkus ke sebuah lumbung untuk disemayamkan.
  • Ma’Palao atau Ma’Pasonglo, yaitu proses perarakan jasad dari area Rumah Tongkonan ke kompleks pemakaman yang disebut Lakkian.
Read More....
Tau-tau, An Unique Statue From Toraja
edit

Tau-tau, An Unique Statue From Toraja

The things that you can only see at Toraja, South Sulawesi. The ancient tombs in the rock which located at Lemo Village. You can see several "Tau tau" guarding at the tombs entrance.

Tau tau is a statue which made of the wood, but it isnt an ordinary statue. Tau tau represents the deceased inside the tomb. Not all of the people can made into a Tau tau, just for the Noblemen. And not all of the noblemen can made into a Tau tau. Its only can made if the family of the nobleman deceased give at least 24 buffalos at the Rambu Solo (Death Ceremony) as tributes.

At the first, this wooden statue were dressed and carved simply, just to show the gender of the deceased. But after several years, however, this statue is become more similar to the deceased who represented the Tau tau.

The types of wood and clothes used for the statue are also reflect the status and wealth of the deceased.

Unfortunately this wooden statues became a target for the grave robbers. They sold it to the museum just for maney. What a stupid crime.

Upacara Tumpek Kandang
edit

Upacara Tumpek Kandang

Secara umum cara pemeliharaan dan perkandangan di Desa Tiga ini sama dengan peternakan di Jawa. Namun ada hal yang membedakan dan menjadi ciri khas dari kandang disini, dimana setiap kandang disini dilengkapi dengan Pura untuk beribadah dan memohon doa kepada para Dewa. Di daerah sekitar kandang pun dilengkapi dengan sesajen-sesajen yang dipersembahkan untuk para roh agar tidak mengganggu manusia dan hewan-hewan disana.
        Ada pun hal unik yang merupakan ciri khas dan kepercayaan masyarakat disini, yaitu adanya Upacara Tumpek Kandang. Upacara Tumpek Kandang ini adalah upacara yang memuja keagungan Tuhan Yang Maha Esa melalui pemeliharaan atas ciptaan-Nya berupa binatang ternak atau hewan peliharaan. Upacara Tumpak Kandang bisa juga disebut hari Tumpak Uye, tumpak kandang ini  jatuh pada setiap hari Sabtu Kliwon Wuku Uye menurut perhitungan kalender Bali-Jawa. Hari ini datang setiap enam bulan (210 hari) sekali.
        Pada hari ini umat Hindu Bali membuat upacara memuja keagungan Tuhan Yang Maha Esa sebagai Siva atau Pasupati, yang memelihara semua makhluk di alam semesta ini. Pemujaan ini diwujudkan dengan memberikan upacara selamatan terhadap semua binatang, khususnya binatang ternak atau hewan peliharaan karena segala jenis hewan ini telah membantu dan menjadi bagian penting ekosistim penompang kehidupan manusia di dunia.
       
Read More....
Lapisan dan Status Sosial Suku Toraja
edit

Lapisan dan Status Sosial Suku Toraja

Beberapa aspek sosial yang akan saya cari tahu di Toraja ini adalah mengenai  lapisan dan status sosial yang ada di masyarakatnya. Menurut Soerjono Soekamto, lapisan sosial adalah perbedaan penduduk atau masyarakat dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis), sementara status sosial adalah tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Sejauh ini, informasi yang saya dapat dari internet adalah bahwa di Toraja sendiri ada pelapisan masyarakat yang terbagi ke dalam tiga kelas, yaitu: bangsawan/kaya, biasa, dan budak. Benarkah hal itu?

Hari-hari pertama di Toraja pun saya habiskan dengan berjalan-jalan di sekitar penginapan saya, di daerah Tompu Tallunglipu, Rantepao. Tanpa bermodal kemampuan berbahasa Toraja, saya mencoba menemukan orang-orang yang menurut saya bisa dijadikan informan atau narasumber. Modal utama saya selain Bahasa Indonesia hanyalah sebungkus rokok mild dan korek gas cricket. Walaupun saya tidak merokok, tapi saya rasa hal ini akan sangat membantu saya dalam menggali informasi dari para informan.

Selama beberapa jam mencari informan dan melakukan wawancara terselubung ini saya cukup banyak menerima informasi mengenai lapisan dan status sosial yang ada pada masyarakat Toraja. Ternyata mengenai adanya pelapisan sosial ke dalam kelas-kelas ini memang benar adanya. Sejak dahulu memang perbedaan kelas di Toraja ini sudah ada, namun menurut sumber yang saya wawancarai, pada masa sekarang perbedaan itu sudah mulai tidak begitu nampak. Hanya terlihat pada saat-saat atau acara tertentu.

Menurut mereka, pada awalnya memang perbedaan antara kaum bangsawan dan budak ini sangat terlihat jelas. Bukan pada saat acara tertentu saja, tetapi pada saat kehidupan sehari-hari. Mulai dari masalah tempat pun kaum budak sangat terbatas. Dalam menentukan pasangan hidup pun kaum  budak tidak boleh menikah dengan keturunan bangsawan. Ada yang lebih ekstrem lagi, kaum budak bahkan tidak boleh duduk atau menginjakkan kaki di tempat-tempat tertentu. Untuk alasan mengenai mengapa adanya larangan-larangan itu, dari informan saya pun masih belum mengetahuinya.

Kehidupan penuh diskriminasi dan kasta ini ternyata mulai memudar seiring berjalannya waktu. Selain mulai masuknya agama seperti Kristen dan Islam, yang perlahan menghapus kepercayaan asli Suku Toraja yang bernama Aluk To Dolo, tingkat pendidikan dari masyarakatnya pun mulai mempengaruhi kehidupan sosial di Toraja. Ditambah lagi posisi dari Tana Toraja yang semakin hari semakin populer sebagai sebuah destinasi bagi wisatawan lokal atau pun internasional. Sehingga pengetahuan orang-orang seusia saya atau yang lebih tua 20 tahun sekali pun tidak begitu mengetahui tentang hal ini. Saya pun direkomendasikan untuk menemui tokoh adat, atau disini dikenal dengan istilah “Pendamai”, untuk mencari informasi lebih lanjut.
Read More....
Adu Kerbau di Pasar Bolu
edit

Adu Kerbau di Pasar Bolu



Pada Hari Rabu, tanggal 18 Maret 2015, da sebuah pemandangan unik di Pasar Hewan Bolu, Rantepao, Toraja Utara. Orang-orang berkumpul membentuk lingkaran besar di area dekat pasar. Ternyata mereka sedang menyaksikan dua ekor kerbau yang sedang bertarung untuk menentukan siapa yang lebih kuat. 

Pasar Bolu sendiri merupakan sebuah pasar hewan yang khusus menjual kerbau. Hari pasar di Pasar Bolu ini diadakan setiap enam hari sekali. Dimana pada setiap hari pasar diperkirakan ada 500-800 ekor kerbau yang dipajang dan dijual. Dengan jumlah kerbau sebanyak ini, maka pasar ini dinobatkan sebagai Pasar Kerbau terbesar di Indonesia bahkan di dunia.

Di setiap hari pasar, ada ratusan pedagang yang berasal dari berbagai daerah, baik dari daerah Toraja atau pun luar Toraja. Mereka sengaja datang ke Pasar Bolu untuk menjual kerbaunya. Harga kerbau di Tana Toraja sendiri terbilang sangat fantastis. Mulai dari puluhan juta hingga milyaran rupiah, tergantung kerbaunya. Tinggi rendahnya harga kerbau dilihat dari keunikan kerbau itu sendiri. Kerbau yang memiliki nilai tinggi adalah jenis kerbau bule atau belang, yang memiliki kulit tubuh berwarna putih, atau biasa dikenal juga sebagai albino. Selain kulit, warna tanduk yang kuning juga akan membuat harga kerbau meningkat. Warna mata dan ukuran tubuh pun menjadi indikator penilaian.

Read More....
Tongkonan Tana Toraja
edit

Tongkonan Tana Toraja



Tana Toraja dan Tongkonan adalah dua hal yang tdak bisa dilepaskan. Ya, Tongkonan sendiri adalah rumah adat asli Suku Toraja yang mempunyai nilai sosial dan sejarah yang sangat menarik. Menurut kepercayaan Suku Toraja, Tongkonan ini merupakan bangunan yang pada awalnya dibangun di Puya (Surga) oleh Puang Matua (Tuhan) dan kemudian dibawa ke Bumi dan dibangun juga di Tana Toraja.


Hampir di setiap tempat yang kita datangi di Toraja, baik kota atau pun desa, pasti kita akan menemukan Tongkonan. Bentuk dari Tongkonan ini juga memang khas. Rumah panggung yang dibangun dengan bahan dasar kayu, seluruh bagian bangunannya dipenuhi oleh ukiran dan lukisan, dengan bentuk atap yang menyerupai perahu terbalik, dan jika dilihat dari samping maka akan terlihat seperti bentuk kepala kerbau.
Ada beberapa fakta unik mengenai Tongkonan yang ada di Tana Toraja ini, yaitu:


  • ·         Tongkonan digunakan oleh orang Toraja sebagai tempat tinggal atau pun sebagai pusat pertemuan keluarga. Setiap orang memiliki lebih dari satu Tongkonan yang bisa ditempati, karena sistem kekeluargaan suku Toraja ini bersifat bilateral.
Read More....
Rambu Solo (Upacara Kematian) Tana Toraja
edit

Rambu Solo (Upacara Kematian) Tana Toraja



Ada sebuah kesempatan berharga yang tidak akan saya lewatkan saat saya sedang berada di Toraja. Kawan saya yang merupakan orang asli Tana Toraja memberitahu saya bahwa besok di dekat kampungnya akan diadakan Rambu Solo atau Upacara Kematian. Tanpa sedikit pun ragu saya langsung mau untuk ikut pergi ke kampungnya yang memerlukan waktu dua jam dari kosan saya di Toraja. Saya pun langsung di antar oleh kawan saya ke tempat dilaksanakannya Rambu Solo ini.



Disatu sisi saya turut berduka cita atas kematian anggota keluarganya yang meninggal di daerah lautan di Irian Jaya. Di sisi lain saya juga merasa bangga, karena bisa ikut dalam acara ini. Kebetulan, karena saya juga sedang melakukan penelitian mengenai Faktor Sosial dan Budaya Suku Toraja yang mempengaruhi nilai jual kerbau. 

Acara Rambu Solo yang dilaksanakan oleh keluarga almarhum ini berlangsung selama dua hari. Hari pertama pada tanggal 16 Maret 2015 ada acara doa bersama, dan tanggal 17 Maret 2015 ada acara pemotongan kerbau dan pengantaran mayat ke Pattani (makam). Saya hanya ikut acara di hari ke 2.

Tempat berlangsungnya acara Rambu Solo ini adalah di Desa Ballah, Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja. Dari rumah kawanku tadi perlu naik motor dan jalan kaki lagi sekitar 30 menit. Di tempat berlangsungnya acara ini orang-orang yang merupakan tetangga dan sanak saudara keluarga sudah memenuhi tempat (semacam saung) yang sudah disiapkan.  Hampir semua orang menggunakan pakaian hitam yang dilengkapi dengan sarung hitam yang mereka sebut Tombilangi.

Read More....
Pesta Laut di Pantai Kalapaan
edit

Pesta Laut di Pantai Kalapaan


Seperti biasa, jam 5 pagi hp-ku suka berteriak-teriak sendiri, mungkin dia kesurupan, atau mungkin cari perhatian, ingin ditemukan untuk kemudian disentuh dan disuruh diam. Yap, pedahal aku sendiri yang sudah menyuruh dia untuk berteriak di jam segitu supaya aku bangun. Oh, alarm.

Mataku mulai kupaksa untuk terbuka, segel berupa belek-belek yang mengelilingi mataku pun mulai berjatuhan. Kulihat sekitar, para perjaka yang tidur di lantai walaupun ada cukup banyak kasur di tempat ini. Juga tubuh penuh keringat mereka yang hanya tertutup celana. Mereka seperti ikan yang siap dibakar.

Sudah hampir satu jam sejak hp-ku berteriak, kubuka pintu rumah sewaan ini, silau. Kuberjalan disekitar sambil sedikit melakukan peregangan badan. Tidak ada gunung sepanjang mataku melihat, hanya sawah kering dan pohon kelapa. Ah, hampir saja aku lupa, aku sedang tidak di Bandung. Sekarang aku sedang ada di Subang, yang baru aku kenal selama 3 hari. Jujur saja, aku baru tau ada Subang yang seperti ini, yang ku tau sih Subang itu dingin, tidak jauh beda dengan Bandungku. Subang disini panas, seperti Jakarta juga Jogjakarta, pagi-pagi saja sudah hareudang.

Subangku saat ini adalah Subang yang cukup jauh dari peradaban. Jalananya masih banyak bebatuan. Kalau kata Camatnya sih, jalanan disini itu baik, suka memberi kita pahala, karena setiap kita melaluinya kita akan lebih sering menyebut nama Tuhan, “Astaghfirullah!”.

Subangku saat ini juga adalah Subang yang gersang. Sinyal hp pun sering menghilang. Kebersihan lingkungannya pun kurang. Sing sabar, jang!

Read More....